Tak cuma satu
Oleh : Binti Syafii
Gema gamelan memenuhi ruangan
Terdengar jelas, khas dan bersuara keras
Terpajang gambaran tokoh pewayangan di setiap biliknya
Rapih tertata topeng-topeng berwajah setengah binatang
Warnanya sudah mulai usang
Nyaris tak pernah tersentuh warisan sang moyang
Tak cuma satu
Topeng-topeng berwajah setengah binatang masih bisa dihidupkan
Menari-nari jingkrak ikuti alunan nada
Gamelan jawa bangkitkan roh dan jiwa
Tak jadi masalah selagi masih ada yang menggelora
Gejolak jiwa terus mainkan peran topeng warisan
Tak cuma satu
Tiang kayu terukir berwarna emas
Warna merah ruangan terlihat selaras
Lampu tak seberapa padang
Serasi dengan gambaran wajah tokoh wayang
Dua hingga lima wanita jawa
Berbusana senada dengan warna ruangan
Berparas cantik berpoles kosmetik
Tersenyum genit dipadu bulu mata yang lentik
Mata berkedip bergoyang badan terlihat berkesan estetik
Pelataran yang luas menjadi wadah
Berseni, berbudaya hingga apresiasi
Mana ada negeri seperti ini?
Peraduan dua insan melahirkan sebuah seni
Lalu bagaimana jika paduan beberapa insan?
Terbayang banyaknya seni dalam negeri
Ditambah banyaknya daerah dalam negeri
Yang memiliki keindahan seni tersendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar