Kamis, 20 Desember 2018

CERPEN @ Sepekan di Tanah Garam, Harapkan Secuil Perubahan

Sepekan di Tanah Garam, Harapkan Secuil Perubahan
Oleh : Ibnah Syati
(Pernah diikut lombakan serta dibukukan dengan beberapa cerpen karya teman-teman di Kampus)


Hiruk pikuk Terminal Gayatri seolah membuatku kesal dan enggan untuk melanjutkan perjalanku yang tak jelas tujuan. Teriakan dari para kondektur menyebutkan beberapa nama kota, bersaut-sautan. Semakin lengkap keramaian di terminal, ditambah teriakan dari pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Aku terfokus pada satu bis kota jurusan Surabaya yang baru saja berhenti, cukup sepi penumpang. Langsung ku masuk ke dalam bis dan memilih tempat duduk di sebelah kiri, tepi jendela. Bis kembali berjalan. Seorang bis mulai berjalan mendekati bangku penumpang menagih ongkos. Ku buka tas ranselku dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan kuserahkan pada bapak kondektur, kemudian diberikannya uang kembalian padaku.

Bis mulai penuh penumpang. Kulihat di sebelah kanan, berdiri seorang ibu cukup tua, berpakaian ala kadarnya dan menggendong seorang anak berusia sekitar 2 tahun.Sepertinya mereka sedang kelelahan. Ku berdiri dari bangku dan mempersilahkannya duduk di bangku-ku.
"Gak usah repot-repot mbak, mbak aja yang duduk disitu", kata ibu.
"Gak apa-apa, buk. Saya dari tadi sudah duduk, sebentar lagi juga sampai" , imbalku. Seketika itu ibu tadi duduk dengan tenang di bangku yang kuberikan. Kuajak berbicara sedikit, ternyata ibu ini orang Madura.
Bis melaju. Satu dua halte dan terminal terlampaui. Akhirnya sampai juga di Terminal Purabaya, Surabaya. Turun dari bis, u duduk di bangku depan toko. Teringat ibu-ibu Madura yang di bis tadi. Jadi ingin ke Madura, ingin tahu bagaimana sebenarnya Madura itu yang katanya banyak orang keras dan katanya masyarakatnya tertinggal dalam hal fashion dan pendidikan. Banyak orang disekitarku yang mengatakan bahwa masyarakat Madura ini kurang memiliki sopan santun karena logat bicaranya yang bernada tinggi. Jadi ingin membuktikannya sendiri, seumur-umur belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Garam itu.
Seorang perempuan tinggi dan cantik, lengkap dengan jilbab berwarna ungu muda dan almamater kampus, salah satu universitas negeri di Surabaya, mendatangiku. Memberikan sebuah dompet, ternyata dompetku, jatuh di dalam bis. Kupersilahkan perempuan tadi duduk di sebelahku.
"Dilihat dulu Mbak isinya, lengkap atau tidak", katanya padaku. Ku lihat isi dompetku ternyata masih utuh.
"Terimakasih ya Mbak. Kalau bukan Mbak yang nemuin pasti ludes isi dompetku"
"Kembali kasih Mbak. Tapi bukan aku yang menemukan"
"Lalu Mbak dapat dari mana?"
"Kenalkan dulu Mbak, Lina. 22 tahun", ucapnya lembut.
"Iya Mbak Lina, Saya Eva. Baru wisuda dua bulan kemarin"
"Panggil Lina aja, gausah terlalu formal. Santai aja. Kita seumuran. Ohya, dompet Mbak yang menemukan adalah ibu yang menggendong anak tadi,Mbak. kebetulan aku duduk ada di belakang ibu tadi " , jawabnya dengan penuh keakraban. Ku langsung berterimakasih sangat padanya. Seketika itu kita berbicara panjang lebar mengenai keseharianku. Dia juga tahu, aku sedang dalam perjalanan tanpa tujuan. Akhir-akhir ini aku sering melakukan perjalanan dari kota ke kota hanya ingin tahu kehidupan desa dan wilayah lain yang belum pernah aku jajaki. Dari tempat ku di besarkan, Bogor. Selama dua bulan terakhir ini ku sudah melakukan perjalan ke beberapa kota seperti Semarang, Magelang, Ponorogo, dan terakhir kemarin di Tulungagung, tanpa seorang teman. Itu ku ceritakan semua pada Lina, yang baru saja ku kenal. Karena kupikir dia asyik diajak berbagi pengalaman, dia cukup dewasa dan sepertinya berpengetahuan lebih luas dariku.
Ku melanjutkan perjalanku bersama Lina. Dari terminal Purabaya, kami naik bis Damri, jurusan Pelabuhan Perak. Sepertinya Lina mau mengajakku ke Pulau lain. Dan benar, naik Kapal jurusan Madura. Di sepanjang perjalanan ku terus menanyakan pada Lina, kemana perjalanan kita. Namun Lina tetap saja membuatku penasaran. Sampailah aku dan Lina di Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Kami langsung menaiki angkot jurusan Sampang, kebetulan hari sudah mulai petang, Lina menyebut salah satu nama desa.
Sepanjang perjalanan cukup sepi. Hingga pukul 9 malam kami sampai disebuah rumah yang sederhana bagiku. Banyak tiang-tiang berdiri menyangga atap. Ruang tamu yang hanya cukup diisi oleh tiga kursi kayu dan satu meja.Halaman yang cukup luas, ada sebuah mushola kecil di samping rumah.
Kedatangan kami disambut oleh ibu dari Lina, Bu Halimah, seumuran dengan ibuku. Sangat ramah, jauh dari apa yang ku bayangkan. Seketika itu ku dipersilahkan istirahat tidur di kamar Lina. Benar-benar terasa lelah dan langsung ku rebahkan tubuh beratku ini di kasur yang tak seberapa empuk. Namun nyenyak kurasa.
Sebelum shubuh aku terbangun, tak sengaja melihat Bu Halimah melakukan aktivitas rumah tangga. Setelah shubuh kulihat beliau menyiapkan beberapa makanan di mushola. Lina dan beberapa keluarganya menyambutku dengan hangat dan mempersilahkan ku untuk sarapan pagi yang kemudian beliau melakukan aktivitasnya di sawah. Begitu juga dengan beberapa keluarganya yang rata-rata menjadi pedagang di pasar. Kebetulan sedang hari Sabtu, pasar cukup ramai dan Lina sedang tidak ada jadwal kampus. Suasana kembali sepi. Hanya aku dan Lina berdua saja duduk bersantai di mushola. Kami saling bertukar cerita, ku tanyakan apa saja yang membuatku penasaran selama ini.
"Maaf ya Lina, kok banyak yang bilang katanya orang Madura ini keras, termasuk dalam cara bicaranya dan sikapnya terhadap orang lain. Terus denger-denger disini maaf ya, banyak orang jahat?" , tanyaku sambil sedikit meneguk teh yang mereka suguhkan.
"Haha. Oke jadi gini" , jawabnya tertawa dengan wajah yang cukup santai. Terlihat sangat cantik.
"Bagaimana sih?" , jawabku dengan rasa penasaran.
"Begini, banyak anggapan orang-orang dari luar Madura seperti yang kamu tanyakan. Keras dalam hal apa dulu. Mereka bicaranya memang keras jika sedang berbicara dengan lawan bicara. Karena apa, masyarakat Madura sangat terbiasa hidup di sekitar pesisir pantai. Bising dengan suara ombak, maka dari itu mereka mengeraskan suaranya. Dari situlah mereka jadi terbiasa dengan bicara bernada keras", jawabnya dengan cara bicaranya yang khas. Tanpa ada sedikit logat Madura. Istilahnya tanpa Medok.
"Iya cukup logis sih ya?"
"Ya"
"Oh ya ini, yang katanya ada orang jahat itu? Maksudnya kok denger-denger di Madura ini banyak kejahatan ya?"
"Begini Eva. Kejahatan seperti apa yang di maksud? Begal? Copet? Rampok? Maling?"
"Ya seperti itu lah"
"Setiap wilayah pasti ada yang namanya kasus kriminalitas. Kamu tahu sendiri kan biasanya itu terjadi di kota-kota besar. Berarti sama 'kan? Nggak cuma di Madura doang"
"Eh, iya sih. Tapi orang luar kok banyak yang takut ya sama orang Madura?"
"Maksudnya? Nggak ada yang berani melakukan kejahatan terhadap orang sini?"
"Tepat!"
"Seperti ini, aku juga sedikit mengangkat ini dalam skripsiku. Jadi di Madura ini ada istilah Blater. Blater ini sebutan untuk orang Madura yang sangat di segani. Setiap kecamatan ataupun desa pasti ada yang namanya Blater. Mereka disini bukan orang jahat sehingga di takuti. Justru preman ataupun geng kejahatan semua segan dengan Blater. Bahkan Blater inilah yang melindungi Madura dari kejahatan. Adanya Blater ini, masyarakat luar Madura jadi takut untuk melakukan kejahatan di Madura. Khususnya kejahatan yang melibatkan wanita. Wanita disini sangat dilindungi oleh mereka. Jadi jika ada berani macam-macam dengan wanita Madura, Blater siap beraksi. Duh duh sok keren gitu ya?" , dia mengakhirinya dengan tertawa. Aku ikutan tertawa dan terus ku terus berbincang santai.
"Kalau mau tahu lebih jelas tentang Madura. Hidup disini dulu, seminggu saja. Aku ajak jalan-jalan mencari jawaban. Haha" , imbuhnya.
"Emang kamu gak keberatan aku disini seminggu?", tanyaku.
"Aku malah seneng loh kamu bisa disini lama-lama. Biar kamu bisa mengupas stereotip negatif Madura yang dipikiranmu" , imbuhnya.
"Duh maaf ya ngerepotin"
"Santai aja, Va! Orangtua mu ngijinin?"
"Kebetulan minggu kemarin orangtuaku berangkat ke Medan ada bisnis. Dan akan berlangsung dua bulan disana"
"Betah-betahin disini ya, haha". Akupun juga tertawa seketika itu.
Hari demi hari sudah kulalui di tanah garam ini. Sedikit demi sedikit rasa penasaranku terhadap masyarakat Madura mulai terjawab. Apalagi Lina juga mengajakku ke beberapa tokoh yang dianggap di hormati dan disegani di desanya. Sudah tiga hari ku di Sampang, Madura. Pengalaman telah kudapatkan meskipun tidak banyak. Setidaknya aku mengerti bahwa tidak semua masyarakat Madura itu keras. Terbukti dari beberapa hari disini, mereka tak kalah sopan dengan orang jawa keraton. Bahkan di hari keempat ku juga sempat ke Sumenep, dimana budaya keratonnya masih terasa. Orang-orang disana sangat lembut, jauh seperti bayanganku sebelumnya. Pendidikan juga, orang luar Madura banyak yang mengira pendidikan di Madura ini tertinggal, tapi sepertinya mereka perlu datang sendiri ke Madura. Memang benar, ada beberapa masyarakat Madura yang putus pendidikan, namun itupun alasannya juga tak jauh beda dengan masyarakat di tempat lain, termasuk kota metropolitan. Terbukti lagi, selama beberapa hari ini ku mengenal beberapa orang berpendidikan yang asli keturunan Madura. Begitupum tentang fashion, ku kira, bahkan sebagian orang mengira, masyarakat Madura ini sangat tertinggal dalam bidang fashion. Terbukti banyaknya gadis Madura yang sering mengenakan sarung bila keluar rumah, padahal itu memang sudah tradisi dan kebiasaan. Banyak kok perempuan Madura yang fashionable. Lina misal, dia asli keturunan Madura. Orangtuanya pun hanya tamatan Sekolah Dasar. Namun pendidikan Lina cukup tinggi, pengetahuannya pun tak kalah dengan pemuda diluar sana, begitupun dengan fashionnya. Lina, gadis Madura yang awalnya ku kira dia orang metropolitan karena penampilan dan attitude-nya. Hingga suatu ketika aku melihat ada beberapa fotonya yang mengenakan kebaya Madura dengan slempang di pundaknya. Lina pun menceritakan perjalanan karirnya. Dia ternyata adalah Duta Pariwisata tahun 2014, finalis Raka Raki jawa timur beberapa tahun lalu, di kampus pun dia juga menjadi duta kampus selama dua tahun, tidak hanya disitu saja, kecerdasannya telah membawanya ke negeri tetangga, sebagai juara tiga debat berbahasa inggris. Sungguh kecerdasannya sepertinya akan mengupas stereotip negatif terhadap masyarakat Madura. Bahwa masyarakat Madura tidaklah seburuk yang difikirkan masyarakat luar. Lina pun telah sering menjuarai essay tentang kebudayaan, dan dengan sengaja dia mengangkat Budaya Kehidupan masyarakat Madura. Sepekan di tanah garam ini ku mendapat beberapa pengalaman dan pelajaran. Ku terasa berat ketika melangkahkan kaki meninggalkan tanah garam ini, Lina mengantarkanku sampai di pelabuhan Kamal, Bangkalan. Disepanjang perjalanan, ku menuliskan sebuah artikel dimana isinya mengupas tentang masyarakat Madura. Yang kemudian tulisanku akan ku terbitkan di sebuah media cetak, media dimana tiap bulan aku setor tulisan untuk dibukukan oleh perusahaan. Ku hanya berharap semoga usaha Lina mampu mengharumkan nama Madura, begitupun dengan tulisanku yang kuharapkan bisa mengubah pemikiran negatif masyarakat luar terhadap Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar