Untaian Kata untuk Surgaku
Oleh : Ibnahsyati
Di tanah yang tandus namun katanya kaya ini
Sepijak dua pijak langkahmu tak henti kau berjalan
Terus menyusuri kerasnya batuan kehidupan
Kerikil tajam melukai suatu hal yang ku anggap surgaku
Menggores dan menodai kedua kaki sucimu
Dibawah langit yang katanya megah ini
Tanganmu terus kau gunakan tuk kewajiban
Bibirmu kau gunakan tuk ucapkan kebaikan
Hatimu kau gunakan tuk ketulusan dan pengabdian
Hai, wanita tangguh !
Setiap kedaaan kau tak pernah mengeluh
Kau, wanita tegar !
Tak pernah roboh ketika hidup terancam hadangan besar
Ratusan hari telah kau lewati
Membawa dan menjaga ruh yang menjadi amanah
Ratusan ribu hari yang kau temui nanti
Tiada lelah kau menjaga ruh yang menjadi buah hati
Ku tau kian lama semakin kecil kekuatanmu
Semakin menurun kesehatanmu
Semakin berkurang waktu hidupmu
Namun semakin besar harapanmu padaku
Pahamilah, Kau surgaku.
Tunggu waktuku untuk bahagiakanmu.
Nb : Okedeh, sedikit cerita. Ini tulisan lama btw , baru upload disini. Awalnya tulisan ini terbentuk itu ketika disuruh kakak tingkat bikin puisi, tapi bukan tentang Ibu sebenernya. Tapi utk memperingati Hari Kartini sebenernya. Tapi menurutku cocok juga kok untuk 2 momen ini. Heheh. Oke terimakasih sudah membaca. Yukk tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar :)
Sabtu, 22 Desember 2018
PUISI @ Bukan Itu
"Bukan itu"
Jika dipanggil, masih suka pura-pura tuli..
Jika diperintah, masih suka berkata nanti..
Bodoh sekali !
Lucu kadang
Berapa kali sudah sering membangkang
Dari di-kandungnya hingga sekarang
Tapi di sosial media mengobral kata-kata "sayang"
Sungguh pencitraan memang
Ayolah
Sesekali mengertilah
Bukan itu yang diinginkannya
Bukan itu sayang yang Ia minta
Turuti permintaannya selagi bisa
Balaslah kesabarannya
Kelembutan hingga tulus kasihnya
Sebelum penyesalan yang kau terima
Ibnahsyati, 22/12/18
Jika dipanggil, masih suka pura-pura tuli..
Jika diperintah, masih suka berkata nanti..
Bodoh sekali !
Lucu kadang
Berapa kali sudah sering membangkang
Dari di-kandungnya hingga sekarang
Tapi di sosial media mengobral kata-kata "sayang"
Sungguh pencitraan memang
Ayolah
Sesekali mengertilah
Bukan itu yang diinginkannya
Bukan itu sayang yang Ia minta
Turuti permintaannya selagi bisa
Balaslah kesabarannya
Kelembutan hingga tulus kasihnya
Sebelum penyesalan yang kau terima
Ibnahsyati, 22/12/18
Kamis, 20 Desember 2018
PUISI @ Tak Cuma Satu
Tak cuma satu
Oleh : Binti Syafii
Gema gamelan memenuhi ruangan
Terdengar jelas, khas dan bersuara keras
Terpajang gambaran tokoh pewayangan di setiap biliknya
Rapih tertata topeng-topeng berwajah setengah binatang
Warnanya sudah mulai usang
Nyaris tak pernah tersentuh warisan sang moyang
Tak cuma satu
Topeng-topeng berwajah setengah binatang masih bisa dihidupkan
Menari-nari jingkrak ikuti alunan nada
Gamelan jawa bangkitkan roh dan jiwa
Tak jadi masalah selagi masih ada yang menggelora
Gejolak jiwa terus mainkan peran topeng warisan
Tak cuma satu
Tiang kayu terukir berwarna emas
Warna merah ruangan terlihat selaras
Lampu tak seberapa padang
Serasi dengan gambaran wajah tokoh wayang
Dua hingga lima wanita jawa
Berbusana senada dengan warna ruangan
Berparas cantik berpoles kosmetik
Tersenyum genit dipadu bulu mata yang lentik
Mata berkedip bergoyang badan terlihat berkesan estetik
Pelataran yang luas menjadi wadah
Berseni, berbudaya hingga apresiasi
Mana ada negeri seperti ini?
Peraduan dua insan melahirkan sebuah seni
Lalu bagaimana jika paduan beberapa insan?
Terbayang banyaknya seni dalam negeri
Ditambah banyaknya daerah dalam negeri
Yang memiliki keindahan seni tersendiri
Oleh : Binti Syafii
Gema gamelan memenuhi ruangan
Terdengar jelas, khas dan bersuara keras
Terpajang gambaran tokoh pewayangan di setiap biliknya
Rapih tertata topeng-topeng berwajah setengah binatang
Warnanya sudah mulai usang
Nyaris tak pernah tersentuh warisan sang moyang
Tak cuma satu
Topeng-topeng berwajah setengah binatang masih bisa dihidupkan
Menari-nari jingkrak ikuti alunan nada
Gamelan jawa bangkitkan roh dan jiwa
Tak jadi masalah selagi masih ada yang menggelora
Gejolak jiwa terus mainkan peran topeng warisan
Tak cuma satu
Tiang kayu terukir berwarna emas
Warna merah ruangan terlihat selaras
Lampu tak seberapa padang
Serasi dengan gambaran wajah tokoh wayang
Dua hingga lima wanita jawa
Berbusana senada dengan warna ruangan
Berparas cantik berpoles kosmetik
Tersenyum genit dipadu bulu mata yang lentik
Mata berkedip bergoyang badan terlihat berkesan estetik
Pelataran yang luas menjadi wadah
Berseni, berbudaya hingga apresiasi
Mana ada negeri seperti ini?
Peraduan dua insan melahirkan sebuah seni
Lalu bagaimana jika paduan beberapa insan?
Terbayang banyaknya seni dalam negeri
Ditambah banyaknya daerah dalam negeri
Yang memiliki keindahan seni tersendiri
CERPEN @ Sepekan di Tanah Garam, Harapkan Secuil Perubahan
Sepekan di Tanah Garam, Harapkan Secuil Perubahan
Oleh : Ibnah Syati
(Pernah diikut lombakan serta dibukukan dengan beberapa cerpen karya teman-teman di Kampus)
Hiruk pikuk Terminal Gayatri seolah membuatku kesal dan enggan untuk melanjutkan perjalanku yang tak jelas tujuan. Teriakan dari para kondektur menyebutkan beberapa nama kota, bersaut-sautan. Semakin lengkap keramaian di terminal, ditambah teriakan dari pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Aku terfokus pada satu bis kota jurusan Surabaya yang baru saja berhenti, cukup sepi penumpang. Langsung ku masuk ke dalam bis dan memilih tempat duduk di sebelah kiri, tepi jendela. Bis kembali berjalan. Seorang bis mulai berjalan mendekati bangku penumpang menagih ongkos. Ku buka tas ranselku dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan kuserahkan pada bapak kondektur, kemudian diberikannya uang kembalian padaku.
Bis mulai penuh penumpang. Kulihat di sebelah kanan, berdiri seorang ibu cukup tua, berpakaian ala kadarnya dan menggendong seorang anak berusia sekitar 2 tahun.Sepertinya mereka sedang kelelahan. Ku berdiri dari bangku dan mempersilahkannya duduk di bangku-ku.
"Gak usah repot-repot mbak, mbak aja yang duduk disitu", kata ibu.
"Gak apa-apa, buk. Saya dari tadi sudah duduk, sebentar lagi juga sampai" , imbalku. Seketika itu ibu tadi duduk dengan tenang di bangku yang kuberikan. Kuajak berbicara sedikit, ternyata ibu ini orang Madura.
Bis melaju. Satu dua halte dan terminal terlampaui. Akhirnya sampai juga di Terminal Purabaya, Surabaya. Turun dari bis, u duduk di bangku depan toko. Teringat ibu-ibu Madura yang di bis tadi. Jadi ingin ke Madura, ingin tahu bagaimana sebenarnya Madura itu yang katanya banyak orang keras dan katanya masyarakatnya tertinggal dalam hal fashion dan pendidikan. Banyak orang disekitarku yang mengatakan bahwa masyarakat Madura ini kurang memiliki sopan santun karena logat bicaranya yang bernada tinggi. Jadi ingin membuktikannya sendiri, seumur-umur belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Garam itu.
Seorang perempuan tinggi dan cantik, lengkap dengan jilbab berwarna ungu muda dan almamater kampus, salah satu universitas negeri di Surabaya, mendatangiku. Memberikan sebuah dompet, ternyata dompetku, jatuh di dalam bis. Kupersilahkan perempuan tadi duduk di sebelahku.
"Dilihat dulu Mbak isinya, lengkap atau tidak", katanya padaku. Ku lihat isi dompetku ternyata masih utuh.
"Terimakasih ya Mbak. Kalau bukan Mbak yang nemuin pasti ludes isi dompetku"
"Kembali kasih Mbak. Tapi bukan aku yang menemukan"
"Lalu Mbak dapat dari mana?"
"Kenalkan dulu Mbak, Lina. 22 tahun", ucapnya lembut.
"Iya Mbak Lina, Saya Eva. Baru wisuda dua bulan kemarin"
"Panggil Lina aja, gausah terlalu formal. Santai aja. Kita seumuran. Ohya, dompet Mbak yang menemukan adalah ibu yang menggendong anak tadi,Mbak. kebetulan aku duduk ada di belakang ibu tadi " , jawabnya dengan penuh keakraban. Ku langsung berterimakasih sangat padanya. Seketika itu kita berbicara panjang lebar mengenai keseharianku. Dia juga tahu, aku sedang dalam perjalanan tanpa tujuan. Akhir-akhir ini aku sering melakukan perjalanan dari kota ke kota hanya ingin tahu kehidupan desa dan wilayah lain yang belum pernah aku jajaki. Dari tempat ku di besarkan, Bogor. Selama dua bulan terakhir ini ku sudah melakukan perjalan ke beberapa kota seperti Semarang, Magelang, Ponorogo, dan terakhir kemarin di Tulungagung, tanpa seorang teman. Itu ku ceritakan semua pada Lina, yang baru saja ku kenal. Karena kupikir dia asyik diajak berbagi pengalaman, dia cukup dewasa dan sepertinya berpengetahuan lebih luas dariku.
Ku melanjutkan perjalanku bersama Lina. Dari terminal Purabaya, kami naik bis Damri, jurusan Pelabuhan Perak. Sepertinya Lina mau mengajakku ke Pulau lain. Dan benar, naik Kapal jurusan Madura. Di sepanjang perjalanan ku terus menanyakan pada Lina, kemana perjalanan kita. Namun Lina tetap saja membuatku penasaran. Sampailah aku dan Lina di Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Kami langsung menaiki angkot jurusan Sampang, kebetulan hari sudah mulai petang, Lina menyebut salah satu nama desa.
Sepanjang perjalanan cukup sepi. Hingga pukul 9 malam kami sampai disebuah rumah yang sederhana bagiku. Banyak tiang-tiang berdiri menyangga atap. Ruang tamu yang hanya cukup diisi oleh tiga kursi kayu dan satu meja.Halaman yang cukup luas, ada sebuah mushola kecil di samping rumah.
Kedatangan kami disambut oleh ibu dari Lina, Bu Halimah, seumuran dengan ibuku. Sangat ramah, jauh dari apa yang ku bayangkan. Seketika itu ku dipersilahkan istirahat tidur di kamar Lina. Benar-benar terasa lelah dan langsung ku rebahkan tubuh beratku ini di kasur yang tak seberapa empuk. Namun nyenyak kurasa.
Sebelum shubuh aku terbangun, tak sengaja melihat Bu Halimah melakukan aktivitas rumah tangga. Setelah shubuh kulihat beliau menyiapkan beberapa makanan di mushola. Lina dan beberapa keluarganya menyambutku dengan hangat dan mempersilahkan ku untuk sarapan pagi yang kemudian beliau melakukan aktivitasnya di sawah. Begitu juga dengan beberapa keluarganya yang rata-rata menjadi pedagang di pasar. Kebetulan sedang hari Sabtu, pasar cukup ramai dan Lina sedang tidak ada jadwal kampus. Suasana kembali sepi. Hanya aku dan Lina berdua saja duduk bersantai di mushola. Kami saling bertukar cerita, ku tanyakan apa saja yang membuatku penasaran selama ini.
"Maaf ya Lina, kok banyak yang bilang katanya orang Madura ini keras, termasuk dalam cara bicaranya dan sikapnya terhadap orang lain. Terus denger-denger disini maaf ya, banyak orang jahat?" , tanyaku sambil sedikit meneguk teh yang mereka suguhkan.
"Haha. Oke jadi gini" , jawabnya tertawa dengan wajah yang cukup santai. Terlihat sangat cantik.
"Bagaimana sih?" , jawabku dengan rasa penasaran.
"Begini, banyak anggapan orang-orang dari luar Madura seperti yang kamu tanyakan. Keras dalam hal apa dulu. Mereka bicaranya memang keras jika sedang berbicara dengan lawan bicara. Karena apa, masyarakat Madura sangat terbiasa hidup di sekitar pesisir pantai. Bising dengan suara ombak, maka dari itu mereka mengeraskan suaranya. Dari situlah mereka jadi terbiasa dengan bicara bernada keras", jawabnya dengan cara bicaranya yang khas. Tanpa ada sedikit logat Madura. Istilahnya tanpa Medok.
"Iya cukup logis sih ya?"
"Ya"
"Oh ya ini, yang katanya ada orang jahat itu? Maksudnya kok denger-denger di Madura ini banyak kejahatan ya?"
"Begini Eva. Kejahatan seperti apa yang di maksud? Begal? Copet? Rampok? Maling?"
"Ya seperti itu lah"
"Setiap wilayah pasti ada yang namanya kasus kriminalitas. Kamu tahu sendiri kan biasanya itu terjadi di kota-kota besar. Berarti sama 'kan? Nggak cuma di Madura doang"
"Eh, iya sih. Tapi orang luar kok banyak yang takut ya sama orang Madura?"
"Maksudnya? Nggak ada yang berani melakukan kejahatan terhadap orang sini?"
"Tepat!"
"Seperti ini, aku juga sedikit mengangkat ini dalam skripsiku. Jadi di Madura ini ada istilah Blater. Blater ini sebutan untuk orang Madura yang sangat di segani. Setiap kecamatan ataupun desa pasti ada yang namanya Blater. Mereka disini bukan orang jahat sehingga di takuti. Justru preman ataupun geng kejahatan semua segan dengan Blater. Bahkan Blater inilah yang melindungi Madura dari kejahatan. Adanya Blater ini, masyarakat luar Madura jadi takut untuk melakukan kejahatan di Madura. Khususnya kejahatan yang melibatkan wanita. Wanita disini sangat dilindungi oleh mereka. Jadi jika ada berani macam-macam dengan wanita Madura, Blater siap beraksi. Duh duh sok keren gitu ya?" , dia mengakhirinya dengan tertawa. Aku ikutan tertawa dan terus ku terus berbincang santai.
"Kalau mau tahu lebih jelas tentang Madura. Hidup disini dulu, seminggu saja. Aku ajak jalan-jalan mencari jawaban. Haha" , imbuhnya.
"Emang kamu gak keberatan aku disini seminggu?", tanyaku.
"Aku malah seneng loh kamu bisa disini lama-lama. Biar kamu bisa mengupas stereotip negatif Madura yang dipikiranmu" , imbuhnya.
"Duh maaf ya ngerepotin"
"Santai aja, Va! Orangtua mu ngijinin?"
"Kebetulan minggu kemarin orangtuaku berangkat ke Medan ada bisnis. Dan akan berlangsung dua bulan disana"
"Betah-betahin disini ya, haha". Akupun juga tertawa seketika itu.
Hari demi hari sudah kulalui di tanah garam ini. Sedikit demi sedikit rasa penasaranku terhadap masyarakat Madura mulai terjawab. Apalagi Lina juga mengajakku ke beberapa tokoh yang dianggap di hormati dan disegani di desanya. Sudah tiga hari ku di Sampang, Madura. Pengalaman telah kudapatkan meskipun tidak banyak. Setidaknya aku mengerti bahwa tidak semua masyarakat Madura itu keras. Terbukti dari beberapa hari disini, mereka tak kalah sopan dengan orang jawa keraton. Bahkan di hari keempat ku juga sempat ke Sumenep, dimana budaya keratonnya masih terasa. Orang-orang disana sangat lembut, jauh seperti bayanganku sebelumnya. Pendidikan juga, orang luar Madura banyak yang mengira pendidikan di Madura ini tertinggal, tapi sepertinya mereka perlu datang sendiri ke Madura. Memang benar, ada beberapa masyarakat Madura yang putus pendidikan, namun itupun alasannya juga tak jauh beda dengan masyarakat di tempat lain, termasuk kota metropolitan. Terbukti lagi, selama beberapa hari ini ku mengenal beberapa orang berpendidikan yang asli keturunan Madura. Begitupum tentang fashion, ku kira, bahkan sebagian orang mengira, masyarakat Madura ini sangat tertinggal dalam bidang fashion. Terbukti banyaknya gadis Madura yang sering mengenakan sarung bila keluar rumah, padahal itu memang sudah tradisi dan kebiasaan. Banyak kok perempuan Madura yang fashionable. Lina misal, dia asli keturunan Madura. Orangtuanya pun hanya tamatan Sekolah Dasar. Namun pendidikan Lina cukup tinggi, pengetahuannya pun tak kalah dengan pemuda diluar sana, begitupun dengan fashionnya. Lina, gadis Madura yang awalnya ku kira dia orang metropolitan karena penampilan dan attitude-nya. Hingga suatu ketika aku melihat ada beberapa fotonya yang mengenakan kebaya Madura dengan slempang di pundaknya. Lina pun menceritakan perjalanan karirnya. Dia ternyata adalah Duta Pariwisata tahun 2014, finalis Raka Raki jawa timur beberapa tahun lalu, di kampus pun dia juga menjadi duta kampus selama dua tahun, tidak hanya disitu saja, kecerdasannya telah membawanya ke negeri tetangga, sebagai juara tiga debat berbahasa inggris. Sungguh kecerdasannya sepertinya akan mengupas stereotip negatif terhadap masyarakat Madura. Bahwa masyarakat Madura tidaklah seburuk yang difikirkan masyarakat luar. Lina pun telah sering menjuarai essay tentang kebudayaan, dan dengan sengaja dia mengangkat Budaya Kehidupan masyarakat Madura. Sepekan di tanah garam ini ku mendapat beberapa pengalaman dan pelajaran. Ku terasa berat ketika melangkahkan kaki meninggalkan tanah garam ini, Lina mengantarkanku sampai di pelabuhan Kamal, Bangkalan. Disepanjang perjalanan, ku menuliskan sebuah artikel dimana isinya mengupas tentang masyarakat Madura. Yang kemudian tulisanku akan ku terbitkan di sebuah media cetak, media dimana tiap bulan aku setor tulisan untuk dibukukan oleh perusahaan. Ku hanya berharap semoga usaha Lina mampu mengharumkan nama Madura, begitupun dengan tulisanku yang kuharapkan bisa mengubah pemikiran negatif masyarakat luar terhadap Madura.
Oleh : Ibnah Syati
(Pernah diikut lombakan serta dibukukan dengan beberapa cerpen karya teman-teman di Kampus)
Hiruk pikuk Terminal Gayatri seolah membuatku kesal dan enggan untuk melanjutkan perjalanku yang tak jelas tujuan. Teriakan dari para kondektur menyebutkan beberapa nama kota, bersaut-sautan. Semakin lengkap keramaian di terminal, ditambah teriakan dari pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Aku terfokus pada satu bis kota jurusan Surabaya yang baru saja berhenti, cukup sepi penumpang. Langsung ku masuk ke dalam bis dan memilih tempat duduk di sebelah kiri, tepi jendela. Bis kembali berjalan. Seorang bis mulai berjalan mendekati bangku penumpang menagih ongkos. Ku buka tas ranselku dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dan kuserahkan pada bapak kondektur, kemudian diberikannya uang kembalian padaku.
Bis mulai penuh penumpang. Kulihat di sebelah kanan, berdiri seorang ibu cukup tua, berpakaian ala kadarnya dan menggendong seorang anak berusia sekitar 2 tahun.Sepertinya mereka sedang kelelahan. Ku berdiri dari bangku dan mempersilahkannya duduk di bangku-ku.
"Gak usah repot-repot mbak, mbak aja yang duduk disitu", kata ibu.
"Gak apa-apa, buk. Saya dari tadi sudah duduk, sebentar lagi juga sampai" , imbalku. Seketika itu ibu tadi duduk dengan tenang di bangku yang kuberikan. Kuajak berbicara sedikit, ternyata ibu ini orang Madura.
Bis melaju. Satu dua halte dan terminal terlampaui. Akhirnya sampai juga di Terminal Purabaya, Surabaya. Turun dari bis, u duduk di bangku depan toko. Teringat ibu-ibu Madura yang di bis tadi. Jadi ingin ke Madura, ingin tahu bagaimana sebenarnya Madura itu yang katanya banyak orang keras dan katanya masyarakatnya tertinggal dalam hal fashion dan pendidikan. Banyak orang disekitarku yang mengatakan bahwa masyarakat Madura ini kurang memiliki sopan santun karena logat bicaranya yang bernada tinggi. Jadi ingin membuktikannya sendiri, seumur-umur belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Garam itu.
Seorang perempuan tinggi dan cantik, lengkap dengan jilbab berwarna ungu muda dan almamater kampus, salah satu universitas negeri di Surabaya, mendatangiku. Memberikan sebuah dompet, ternyata dompetku, jatuh di dalam bis. Kupersilahkan perempuan tadi duduk di sebelahku.
"Dilihat dulu Mbak isinya, lengkap atau tidak", katanya padaku. Ku lihat isi dompetku ternyata masih utuh.
"Terimakasih ya Mbak. Kalau bukan Mbak yang nemuin pasti ludes isi dompetku"
"Kembali kasih Mbak. Tapi bukan aku yang menemukan"
"Lalu Mbak dapat dari mana?"
"Kenalkan dulu Mbak, Lina. 22 tahun", ucapnya lembut.
"Iya Mbak Lina, Saya Eva. Baru wisuda dua bulan kemarin"
"Panggil Lina aja, gausah terlalu formal. Santai aja. Kita seumuran. Ohya, dompet Mbak yang menemukan adalah ibu yang menggendong anak tadi,Mbak. kebetulan aku duduk ada di belakang ibu tadi " , jawabnya dengan penuh keakraban. Ku langsung berterimakasih sangat padanya. Seketika itu kita berbicara panjang lebar mengenai keseharianku. Dia juga tahu, aku sedang dalam perjalanan tanpa tujuan. Akhir-akhir ini aku sering melakukan perjalanan dari kota ke kota hanya ingin tahu kehidupan desa dan wilayah lain yang belum pernah aku jajaki. Dari tempat ku di besarkan, Bogor. Selama dua bulan terakhir ini ku sudah melakukan perjalan ke beberapa kota seperti Semarang, Magelang, Ponorogo, dan terakhir kemarin di Tulungagung, tanpa seorang teman. Itu ku ceritakan semua pada Lina, yang baru saja ku kenal. Karena kupikir dia asyik diajak berbagi pengalaman, dia cukup dewasa dan sepertinya berpengetahuan lebih luas dariku.
Ku melanjutkan perjalanku bersama Lina. Dari terminal Purabaya, kami naik bis Damri, jurusan Pelabuhan Perak. Sepertinya Lina mau mengajakku ke Pulau lain. Dan benar, naik Kapal jurusan Madura. Di sepanjang perjalanan ku terus menanyakan pada Lina, kemana perjalanan kita. Namun Lina tetap saja membuatku penasaran. Sampailah aku dan Lina di Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Kami langsung menaiki angkot jurusan Sampang, kebetulan hari sudah mulai petang, Lina menyebut salah satu nama desa.
Sepanjang perjalanan cukup sepi. Hingga pukul 9 malam kami sampai disebuah rumah yang sederhana bagiku. Banyak tiang-tiang berdiri menyangga atap. Ruang tamu yang hanya cukup diisi oleh tiga kursi kayu dan satu meja.Halaman yang cukup luas, ada sebuah mushola kecil di samping rumah.
Kedatangan kami disambut oleh ibu dari Lina, Bu Halimah, seumuran dengan ibuku. Sangat ramah, jauh dari apa yang ku bayangkan. Seketika itu ku dipersilahkan istirahat tidur di kamar Lina. Benar-benar terasa lelah dan langsung ku rebahkan tubuh beratku ini di kasur yang tak seberapa empuk. Namun nyenyak kurasa.
Sebelum shubuh aku terbangun, tak sengaja melihat Bu Halimah melakukan aktivitas rumah tangga. Setelah shubuh kulihat beliau menyiapkan beberapa makanan di mushola. Lina dan beberapa keluarganya menyambutku dengan hangat dan mempersilahkan ku untuk sarapan pagi yang kemudian beliau melakukan aktivitasnya di sawah. Begitu juga dengan beberapa keluarganya yang rata-rata menjadi pedagang di pasar. Kebetulan sedang hari Sabtu, pasar cukup ramai dan Lina sedang tidak ada jadwal kampus. Suasana kembali sepi. Hanya aku dan Lina berdua saja duduk bersantai di mushola. Kami saling bertukar cerita, ku tanyakan apa saja yang membuatku penasaran selama ini.
"Maaf ya Lina, kok banyak yang bilang katanya orang Madura ini keras, termasuk dalam cara bicaranya dan sikapnya terhadap orang lain. Terus denger-denger disini maaf ya, banyak orang jahat?" , tanyaku sambil sedikit meneguk teh yang mereka suguhkan.
"Haha. Oke jadi gini" , jawabnya tertawa dengan wajah yang cukup santai. Terlihat sangat cantik.
"Bagaimana sih?" , jawabku dengan rasa penasaran.
"Begini, banyak anggapan orang-orang dari luar Madura seperti yang kamu tanyakan. Keras dalam hal apa dulu. Mereka bicaranya memang keras jika sedang berbicara dengan lawan bicara. Karena apa, masyarakat Madura sangat terbiasa hidup di sekitar pesisir pantai. Bising dengan suara ombak, maka dari itu mereka mengeraskan suaranya. Dari situlah mereka jadi terbiasa dengan bicara bernada keras", jawabnya dengan cara bicaranya yang khas. Tanpa ada sedikit logat Madura. Istilahnya tanpa Medok.
"Iya cukup logis sih ya?"
"Ya"
"Oh ya ini, yang katanya ada orang jahat itu? Maksudnya kok denger-denger di Madura ini banyak kejahatan ya?"
"Begini Eva. Kejahatan seperti apa yang di maksud? Begal? Copet? Rampok? Maling?"
"Ya seperti itu lah"
"Setiap wilayah pasti ada yang namanya kasus kriminalitas. Kamu tahu sendiri kan biasanya itu terjadi di kota-kota besar. Berarti sama 'kan? Nggak cuma di Madura doang"
"Eh, iya sih. Tapi orang luar kok banyak yang takut ya sama orang Madura?"
"Maksudnya? Nggak ada yang berani melakukan kejahatan terhadap orang sini?"
"Tepat!"
"Seperti ini, aku juga sedikit mengangkat ini dalam skripsiku. Jadi di Madura ini ada istilah Blater. Blater ini sebutan untuk orang Madura yang sangat di segani. Setiap kecamatan ataupun desa pasti ada yang namanya Blater. Mereka disini bukan orang jahat sehingga di takuti. Justru preman ataupun geng kejahatan semua segan dengan Blater. Bahkan Blater inilah yang melindungi Madura dari kejahatan. Adanya Blater ini, masyarakat luar Madura jadi takut untuk melakukan kejahatan di Madura. Khususnya kejahatan yang melibatkan wanita. Wanita disini sangat dilindungi oleh mereka. Jadi jika ada berani macam-macam dengan wanita Madura, Blater siap beraksi. Duh duh sok keren gitu ya?" , dia mengakhirinya dengan tertawa. Aku ikutan tertawa dan terus ku terus berbincang santai.
"Kalau mau tahu lebih jelas tentang Madura. Hidup disini dulu, seminggu saja. Aku ajak jalan-jalan mencari jawaban. Haha" , imbuhnya.
"Emang kamu gak keberatan aku disini seminggu?", tanyaku.
"Aku malah seneng loh kamu bisa disini lama-lama. Biar kamu bisa mengupas stereotip negatif Madura yang dipikiranmu" , imbuhnya.
"Duh maaf ya ngerepotin"
"Santai aja, Va! Orangtua mu ngijinin?"
"Kebetulan minggu kemarin orangtuaku berangkat ke Medan ada bisnis. Dan akan berlangsung dua bulan disana"
"Betah-betahin disini ya, haha". Akupun juga tertawa seketika itu.
Hari demi hari sudah kulalui di tanah garam ini. Sedikit demi sedikit rasa penasaranku terhadap masyarakat Madura mulai terjawab. Apalagi Lina juga mengajakku ke beberapa tokoh yang dianggap di hormati dan disegani di desanya. Sudah tiga hari ku di Sampang, Madura. Pengalaman telah kudapatkan meskipun tidak banyak. Setidaknya aku mengerti bahwa tidak semua masyarakat Madura itu keras. Terbukti dari beberapa hari disini, mereka tak kalah sopan dengan orang jawa keraton. Bahkan di hari keempat ku juga sempat ke Sumenep, dimana budaya keratonnya masih terasa. Orang-orang disana sangat lembut, jauh seperti bayanganku sebelumnya. Pendidikan juga, orang luar Madura banyak yang mengira pendidikan di Madura ini tertinggal, tapi sepertinya mereka perlu datang sendiri ke Madura. Memang benar, ada beberapa masyarakat Madura yang putus pendidikan, namun itupun alasannya juga tak jauh beda dengan masyarakat di tempat lain, termasuk kota metropolitan. Terbukti lagi, selama beberapa hari ini ku mengenal beberapa orang berpendidikan yang asli keturunan Madura. Begitupum tentang fashion, ku kira, bahkan sebagian orang mengira, masyarakat Madura ini sangat tertinggal dalam bidang fashion. Terbukti banyaknya gadis Madura yang sering mengenakan sarung bila keluar rumah, padahal itu memang sudah tradisi dan kebiasaan. Banyak kok perempuan Madura yang fashionable. Lina misal, dia asli keturunan Madura. Orangtuanya pun hanya tamatan Sekolah Dasar. Namun pendidikan Lina cukup tinggi, pengetahuannya pun tak kalah dengan pemuda diluar sana, begitupun dengan fashionnya. Lina, gadis Madura yang awalnya ku kira dia orang metropolitan karena penampilan dan attitude-nya. Hingga suatu ketika aku melihat ada beberapa fotonya yang mengenakan kebaya Madura dengan slempang di pundaknya. Lina pun menceritakan perjalanan karirnya. Dia ternyata adalah Duta Pariwisata tahun 2014, finalis Raka Raki jawa timur beberapa tahun lalu, di kampus pun dia juga menjadi duta kampus selama dua tahun, tidak hanya disitu saja, kecerdasannya telah membawanya ke negeri tetangga, sebagai juara tiga debat berbahasa inggris. Sungguh kecerdasannya sepertinya akan mengupas stereotip negatif terhadap masyarakat Madura. Bahwa masyarakat Madura tidaklah seburuk yang difikirkan masyarakat luar. Lina pun telah sering menjuarai essay tentang kebudayaan, dan dengan sengaja dia mengangkat Budaya Kehidupan masyarakat Madura. Sepekan di tanah garam ini ku mendapat beberapa pengalaman dan pelajaran. Ku terasa berat ketika melangkahkan kaki meninggalkan tanah garam ini, Lina mengantarkanku sampai di pelabuhan Kamal, Bangkalan. Disepanjang perjalanan, ku menuliskan sebuah artikel dimana isinya mengupas tentang masyarakat Madura. Yang kemudian tulisanku akan ku terbitkan di sebuah media cetak, media dimana tiap bulan aku setor tulisan untuk dibukukan oleh perusahaan. Ku hanya berharap semoga usaha Lina mampu mengharumkan nama Madura, begitupun dengan tulisanku yang kuharapkan bisa mengubah pemikiran negatif masyarakat luar terhadap Madura.
CERPEN @ Dendam Suci
Dendam Suci
Oleh Ibnah Syati
“plakkk!!”
suara tamparan ke-sepuluh dalam 2 minggu ini. Bapakku memang memiliki watak yang sangat kasar dan amat keras kepala. Dia suka judi, mabuk-mabukkan, bahkan sering bermain wanita diluar sana. Sebagai anak pertama yang sudah dewasa, tentunya aku sangat prihatin dengan keadaan keluargaku ini. Meskipun aku adalah anak laki-laki kesayangan bapak, tapi aku sering menangis melihat perlakuan kasar bapak kepada ibu.. Hampir setiap hari bapak pulang dengan keadaan setengah tidak sadar dan dengan kasar mendobrak pintu rumah. Ibu hanya sedih dan diam saja melihat keadaan bapak yang seperti ini.
Gelang dan perhiasan mas kawin bapak dan ibu telah bapak jual hanya untuk membayar hutang bapak kepada bandar judi. Adikku perempuan yang berumur 10 tahun selalu ikut menerima kenyataan buruk ini. Aku memang anak laki-laki yang bisa dibilang cukup dewasa untuk seumuran SMA, tapi aku merasa jenuh dan bosan dengan keadaan rumah, sering aku meninggalkan rumah ketika mereka bertengkar.Pernah aku berfikir untuk meminum minuman keras hanya untuk menenangkan pikiran. Tapi allah ternyata masih sayang denganku dan mengirimkan seorang guru laki-laki yang mampu menerima keluh kesahku dan menenangkan pikiranku. Bapak Harun, guru yang selalu memberiku motivasi dan makna hidup.
Keluargaku memang tidak terlalu berkecukupan, untuk jajan disekolah saja setiap menjelang subuh aku harus bekerja menjadi kuli angkat disuatu pasar dengan gaji 2000 rupiah untuk satu karungnya. Yang rata-rata berat dari karung tersebut 10-15 kg. Bapak dan ibu memang mengetahui aku bekerja seperti ini, apalagi ibuku yang setiap harinya menjadi buruh cuci juga terkadang ikut aku bekerja menjadi kuli dipasar. Dan bapakku terkadang terus memaksaku untuk ikut bapak keluar kota dengan calon istri barunya.
“Di, kamu tahu bapak sayang banget sama kamu. Bapak tahu kita hidup sangat miskin dan kekurangan. Apalagi ibumu yang tidak berguna itu cemburuan dan menyusahkan bapak cari uang”
“bapak sayang sama edi? Tapi kenapa bapak perlakukan seperti itu kepada ibu yang melahirkan edi?”
“kamu bodoh edi! Kamu nggak capek hidup kayak gini terus?”
“jelas edi capek pak! Capek melihat bapak pulang malem dengan keadaan mabuk. Capek ngelihat ibu bapak tampar, bapak siksa. Edi jenuh dirumah pak, karena perlakuan bapak”
“kamu nyalahin bapak? Bapak bilang baik-baik sama kamu itu karena minggu depan kamu harus ikut bapak ke Jakarta dengan ibu baru kamu!”
“hah? Ke jakarta ? Ibu baru?”
“yah, penyanyi yang tersohor di Kota Jakarta. Jelas hidupmu enak dan bisa terkenal kamu, punya ibu cantik, seksi, kaya lagi. Gak seperti ibumu yang jilbab aja lecek gak pernah ganti” . Dari pintu terlihat ibu datang dengan membawa cucian kotor.
Kulihat ibu hanya diam saja sambil memandang jilbabnya. Kurasa ibu mendengar apa yang bapak katakan.
“bapak, bapak boleh menghinaku didepan edi. Tapi apa benar bapak akan nikah lagi? Kenapa pak? Lalu bagaimana dengan anak-anak?”
“bagaimana apanya? Ya edi ikut aku tinggal bersama ibu barunya. Kamu disini sama rani. Aku udah gak betah bu hidup miskin sama kamu!”
“uang darimana buat bapak menikah lagi?”
“ya dari calon istriku lah yang banyak duit gak kayak isttri macem kamu”
Sejenak ibu langsung terdiam dan terlihat matanya yang berkaca-kaca. Aku sebenarnya udah emosi melihat keadaan ini. Namun aku mencoba menenangkan emosiku dan mulai berkata sedikit demi sedikit. Dan setelah bapak pergi meninggalkan rumah. Aku pamit ke ibu untuk cari udara segar dan menenangkan pikiranku.
***
Bel istirahat berbunyi, aku segera keluar kelas. Dari arah kanan terlihat Pak Harun sedang kerepotan membawa buku-buku pelajaran anak kelas lain. Segera ku menghampirinya dan membantunya membawakan sebagian buku tersebut menuju ruang guru, disepanjang jalan dua orang anak cewek yang terkenal bandel disekolah meledekku.
“anak seorang penjudi lagi deket ama guru, ingin punya bapak baru tuh cowok” terdengar dengan jelas perkataan mereka. Tapi, hm biarkan sajalah apa yang mereka kata. Memang benar aku anak seorang penjudi.
Didalam ruang guru, aku mensempat-sempatkan waktu ssperti biasa untuk bercerita keluh kesahku kepada pak Harun.
“ulah bapakku makin menjadi, pak! Bapak punya keinginan untuk pisah dengan ibu dan menikah lagi” kataku memulai pembicaraan saat duduk disebelahnya.
“tapi apakah bapakmu masih main tangan?”
“sudah pasti itu pak. Terkadang aku berfikir untuk kabur jauh dari rumah”
“itu gak ada gunanya. Apa kamu gak berfikir bagaimana keadaan ibumu kalo kamu gak dirumah?”
“ya aku juga berfikir seperti itu pak. Tapi aku juga stress dirumah”
“di, ingat kamu sebentar lagi akan menghadapi UNAS. Fikirkan dulu UNASmu.”
“iya aku tahu itu pak.”
“kamu jadi kuliah?”
“insyaallah pak. Kemarin aku sudah diberi tahu pak Surya kalau nilai raportku sudah disetorkan ke UBM pak”
“bagus itu edi. Teruskan perjuanganmu ya. Dan bapak kasih tau ke kamu. Kamu harus menanamkan DENDAM buat keluargamu”
“apa yang bapak maksud? Dendam itu kan...” belum sampai kumelanjutkan perkataanku, pak Harun memotong kata-kataku.
“ya dendam itu memang dosa. Yang bapak maksud dengan dendam adalah dendam kebaikan”
“apakah ada dendam kebaikan?”
“kamu harus memilik ketegasan dalam hidupmu , Di! Aku udah gede, aku juga uda bisa berfikir dewasa. Aku dendam kepada bapak atas perlakuan bapak yang sudah merusak kebahagiaan keluarga. Awas kamu, Pak! Aku akan serius belajar dan bersekolah hingga aku lulus dan menjadi orang sukses.”
“seperti cita-cita?”
“gak hanya cita-cita namun juga tujuan. Kalau aku sukses nanti, akan kuajak ibu dan rani didalam kebahagiaan”
“terimakasih pak Harun. Bapak sangat memotivasi.”
Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, “di silakan masuk kelas. Bel masuk udah bunyi. Semangatlah untuk dendammu.”
“iya pak.” Sambil ku bersalaman dengan beliau , langsung ku menuju kelasku dilantai 2
*************************
Hari ini, hari dimana akan diumumkan kelulusan. Doa dan istiqomah terus kupanjatkan. Disepanjang acara, aku terus berkata dalam hati kalimat dendam dari Pak Harun. Alhamdulillah aku masuk 5 besar jalur SNMPTN di UBM. Subhanallah, akan kumulai dendamku. Dan kutengok ibuku yang duduk disebelahku dalam acara ini. Terlihat muka ibu senang dan ada kesedihan yang ditutupinya. Kebetulan, minggu-minggu ini bapak udah gak pernah terlihat.
*kling!* suara handphone-ku , pesan dari bapak: edi sudah lulusan ya? Ikut bapak ya, Nak! Dengan ibu barumu yang kaya. Dan kamu gak perlu kesulitan lagi buat biaya sekolah.
Tanpa memberi tahu ibu, kumembalas pesan tersebut:aku memilih bersama ibu pak. Kalau bapak ingin mengajak edi, kembalilah pak. Dan perlu bapak ingat. Aku janji pak! Kalau edi gagal, edi mau tinggal bersama bapak dan ibu baru. Tapi kalau edi sukses. Edi tetap tinggal bersama ibu dalam kebahagiaan kesuksesan edi. Sekali lagi, kalau bapak sayang edi, kembalilah kepada kami. Maaf pak!
******6 tahun berjalan******
Rani sudah mulai tumbuh dewasa dan bersekolah disalah satu sekolah ternama didaerah rumah yang baru saja kubeli. Ibu juga sudah mulai terlihat tua namun makin terlihat bersahaja, meskipun terkadang masih sering berdoa tentang keselamatan bapak dan masih ada rasa sayang terhadap bapak. Dan seorang istri yang anggun nan cantik yang kebetulan dia seorang guru disekolah rani adikku.
Saat itu pukul 3 sore, mendung dilangit terlihat sangat gelap dan hujan deras mengguyur wilayah kami. Kunyalakan mobilku untuk menjemput farida istriku dan rani adikku. Ibu sengaja tidak ikut karena ia sedang asyik melihat hujan dari lantai 2.
Setelah sampai sekolah, kumelihat seorang laki-laki tua sedang menunggu anak sekolah, setelah kudekati dan kutanya ternyata beliau adalah Pak Harun yang sedang menjemput cucunya. Kamipun berbicara dan bercerita panjang lebar tentang keluargaku juga kukenalkan istriku. Aku sangat terharu ternyata pak Harun masih ingat dendamku yang kini telah terwujud. Pak harun bangga karena aku sudah memiliki mobil dan rumah sendiri, bekerja menjadi Manager di suatu Mall. Saat rani datang, dia bersama teman sebayanya yang ternyata itu adalah cucu Pak Harun.
Mendung semakin gelap, dan hujan makin deras. Segera ku kembali kerumah. Saat istriku turun dari mobil untuk membuka pagar rumah, terlihat lelaki tua tergeletak tak berdaya didepan pagar dan istriku memanggilku untuk keluar dari mobil. Astaghfirullah, bapak tua itu adalah bapakku. Langsung kubawa dia kedalam mobil dan kuparkir mobilku ke garasi.
Kuajak ke kamar tamu dan kupanggil ibu, terlihat ibu sangat senang dan khawatir. Setelah bapak sadar, bapak menceritakan semuanya. Ternyata selama ini bapak tidak menikah lagi, ia pergi dari rumah karena ingin menenangkan diri dan sebenarnya saat itu bapak sudah berhenti judi dan mabuk-mabukan. Ia pergi dari rumah karena tak ingin membebani ibu, aku dan rani anaknya. Setelah bapak tahu aku lulus dan sukses seperti sekarang, bapak sangat bersyukur dan ingin sekali bertemu kami, walaupun hanya 2 menit. Namun semenjak kejadian itu, kini bapak tinggal bersama ibu, rani, dan istriku dirumahku dan menjadi rumah kami (ibnahsyati)
*** T A M A T***
Oleh Ibnah Syati
“plakkk!!”
suara tamparan ke-sepuluh dalam 2 minggu ini. Bapakku memang memiliki watak yang sangat kasar dan amat keras kepala. Dia suka judi, mabuk-mabukkan, bahkan sering bermain wanita diluar sana. Sebagai anak pertama yang sudah dewasa, tentunya aku sangat prihatin dengan keadaan keluargaku ini. Meskipun aku adalah anak laki-laki kesayangan bapak, tapi aku sering menangis melihat perlakuan kasar bapak kepada ibu.. Hampir setiap hari bapak pulang dengan keadaan setengah tidak sadar dan dengan kasar mendobrak pintu rumah. Ibu hanya sedih dan diam saja melihat keadaan bapak yang seperti ini.
Gelang dan perhiasan mas kawin bapak dan ibu telah bapak jual hanya untuk membayar hutang bapak kepada bandar judi. Adikku perempuan yang berumur 10 tahun selalu ikut menerima kenyataan buruk ini. Aku memang anak laki-laki yang bisa dibilang cukup dewasa untuk seumuran SMA, tapi aku merasa jenuh dan bosan dengan keadaan rumah, sering aku meninggalkan rumah ketika mereka bertengkar.Pernah aku berfikir untuk meminum minuman keras hanya untuk menenangkan pikiran. Tapi allah ternyata masih sayang denganku dan mengirimkan seorang guru laki-laki yang mampu menerima keluh kesahku dan menenangkan pikiranku. Bapak Harun, guru yang selalu memberiku motivasi dan makna hidup.
Keluargaku memang tidak terlalu berkecukupan, untuk jajan disekolah saja setiap menjelang subuh aku harus bekerja menjadi kuli angkat disuatu pasar dengan gaji 2000 rupiah untuk satu karungnya. Yang rata-rata berat dari karung tersebut 10-15 kg. Bapak dan ibu memang mengetahui aku bekerja seperti ini, apalagi ibuku yang setiap harinya menjadi buruh cuci juga terkadang ikut aku bekerja menjadi kuli dipasar. Dan bapakku terkadang terus memaksaku untuk ikut bapak keluar kota dengan calon istri barunya.
“Di, kamu tahu bapak sayang banget sama kamu. Bapak tahu kita hidup sangat miskin dan kekurangan. Apalagi ibumu yang tidak berguna itu cemburuan dan menyusahkan bapak cari uang”
“bapak sayang sama edi? Tapi kenapa bapak perlakukan seperti itu kepada ibu yang melahirkan edi?”
“kamu bodoh edi! Kamu nggak capek hidup kayak gini terus?”
“jelas edi capek pak! Capek melihat bapak pulang malem dengan keadaan mabuk. Capek ngelihat ibu bapak tampar, bapak siksa. Edi jenuh dirumah pak, karena perlakuan bapak”
“kamu nyalahin bapak? Bapak bilang baik-baik sama kamu itu karena minggu depan kamu harus ikut bapak ke Jakarta dengan ibu baru kamu!”
“hah? Ke jakarta ? Ibu baru?”
“yah, penyanyi yang tersohor di Kota Jakarta. Jelas hidupmu enak dan bisa terkenal kamu, punya ibu cantik, seksi, kaya lagi. Gak seperti ibumu yang jilbab aja lecek gak pernah ganti” . Dari pintu terlihat ibu datang dengan membawa cucian kotor.
Kulihat ibu hanya diam saja sambil memandang jilbabnya. Kurasa ibu mendengar apa yang bapak katakan.
“bapak, bapak boleh menghinaku didepan edi. Tapi apa benar bapak akan nikah lagi? Kenapa pak? Lalu bagaimana dengan anak-anak?”
“bagaimana apanya? Ya edi ikut aku tinggal bersama ibu barunya. Kamu disini sama rani. Aku udah gak betah bu hidup miskin sama kamu!”
“uang darimana buat bapak menikah lagi?”
“ya dari calon istriku lah yang banyak duit gak kayak isttri macem kamu”
Sejenak ibu langsung terdiam dan terlihat matanya yang berkaca-kaca. Aku sebenarnya udah emosi melihat keadaan ini. Namun aku mencoba menenangkan emosiku dan mulai berkata sedikit demi sedikit. Dan setelah bapak pergi meninggalkan rumah. Aku pamit ke ibu untuk cari udara segar dan menenangkan pikiranku.
***
Bel istirahat berbunyi, aku segera keluar kelas. Dari arah kanan terlihat Pak Harun sedang kerepotan membawa buku-buku pelajaran anak kelas lain. Segera ku menghampirinya dan membantunya membawakan sebagian buku tersebut menuju ruang guru, disepanjang jalan dua orang anak cewek yang terkenal bandel disekolah meledekku.
“anak seorang penjudi lagi deket ama guru, ingin punya bapak baru tuh cowok” terdengar dengan jelas perkataan mereka. Tapi, hm biarkan sajalah apa yang mereka kata. Memang benar aku anak seorang penjudi.
Didalam ruang guru, aku mensempat-sempatkan waktu ssperti biasa untuk bercerita keluh kesahku kepada pak Harun.
“ulah bapakku makin menjadi, pak! Bapak punya keinginan untuk pisah dengan ibu dan menikah lagi” kataku memulai pembicaraan saat duduk disebelahnya.
“tapi apakah bapakmu masih main tangan?”
“sudah pasti itu pak. Terkadang aku berfikir untuk kabur jauh dari rumah”
“itu gak ada gunanya. Apa kamu gak berfikir bagaimana keadaan ibumu kalo kamu gak dirumah?”
“ya aku juga berfikir seperti itu pak. Tapi aku juga stress dirumah”
“di, ingat kamu sebentar lagi akan menghadapi UNAS. Fikirkan dulu UNASmu.”
“iya aku tahu itu pak.”
“kamu jadi kuliah?”
“insyaallah pak. Kemarin aku sudah diberi tahu pak Surya kalau nilai raportku sudah disetorkan ke UBM pak”
“bagus itu edi. Teruskan perjuanganmu ya. Dan bapak kasih tau ke kamu. Kamu harus menanamkan DENDAM buat keluargamu”
“apa yang bapak maksud? Dendam itu kan...” belum sampai kumelanjutkan perkataanku, pak Harun memotong kata-kataku.
“ya dendam itu memang dosa. Yang bapak maksud dengan dendam adalah dendam kebaikan”
“apakah ada dendam kebaikan?”
“kamu harus memilik ketegasan dalam hidupmu , Di! Aku udah gede, aku juga uda bisa berfikir dewasa. Aku dendam kepada bapak atas perlakuan bapak yang sudah merusak kebahagiaan keluarga. Awas kamu, Pak! Aku akan serius belajar dan bersekolah hingga aku lulus dan menjadi orang sukses.”
“seperti cita-cita?”
“gak hanya cita-cita namun juga tujuan. Kalau aku sukses nanti, akan kuajak ibu dan rani didalam kebahagiaan”
“terimakasih pak Harun. Bapak sangat memotivasi.”
Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, “di silakan masuk kelas. Bel masuk udah bunyi. Semangatlah untuk dendammu.”
“iya pak.” Sambil ku bersalaman dengan beliau , langsung ku menuju kelasku dilantai 2
*************************
Hari ini, hari dimana akan diumumkan kelulusan. Doa dan istiqomah terus kupanjatkan. Disepanjang acara, aku terus berkata dalam hati kalimat dendam dari Pak Harun. Alhamdulillah aku masuk 5 besar jalur SNMPTN di UBM. Subhanallah, akan kumulai dendamku. Dan kutengok ibuku yang duduk disebelahku dalam acara ini. Terlihat muka ibu senang dan ada kesedihan yang ditutupinya. Kebetulan, minggu-minggu ini bapak udah gak pernah terlihat.
*kling!* suara handphone-ku , pesan dari bapak: edi sudah lulusan ya? Ikut bapak ya, Nak! Dengan ibu barumu yang kaya. Dan kamu gak perlu kesulitan lagi buat biaya sekolah.
Tanpa memberi tahu ibu, kumembalas pesan tersebut:aku memilih bersama ibu pak. Kalau bapak ingin mengajak edi, kembalilah pak. Dan perlu bapak ingat. Aku janji pak! Kalau edi gagal, edi mau tinggal bersama bapak dan ibu baru. Tapi kalau edi sukses. Edi tetap tinggal bersama ibu dalam kebahagiaan kesuksesan edi. Sekali lagi, kalau bapak sayang edi, kembalilah kepada kami. Maaf pak!
******6 tahun berjalan******
Rani sudah mulai tumbuh dewasa dan bersekolah disalah satu sekolah ternama didaerah rumah yang baru saja kubeli. Ibu juga sudah mulai terlihat tua namun makin terlihat bersahaja, meskipun terkadang masih sering berdoa tentang keselamatan bapak dan masih ada rasa sayang terhadap bapak. Dan seorang istri yang anggun nan cantik yang kebetulan dia seorang guru disekolah rani adikku.
Saat itu pukul 3 sore, mendung dilangit terlihat sangat gelap dan hujan deras mengguyur wilayah kami. Kunyalakan mobilku untuk menjemput farida istriku dan rani adikku. Ibu sengaja tidak ikut karena ia sedang asyik melihat hujan dari lantai 2.
Setelah sampai sekolah, kumelihat seorang laki-laki tua sedang menunggu anak sekolah, setelah kudekati dan kutanya ternyata beliau adalah Pak Harun yang sedang menjemput cucunya. Kamipun berbicara dan bercerita panjang lebar tentang keluargaku juga kukenalkan istriku. Aku sangat terharu ternyata pak Harun masih ingat dendamku yang kini telah terwujud. Pak harun bangga karena aku sudah memiliki mobil dan rumah sendiri, bekerja menjadi Manager di suatu Mall. Saat rani datang, dia bersama teman sebayanya yang ternyata itu adalah cucu Pak Harun.
Mendung semakin gelap, dan hujan makin deras. Segera ku kembali kerumah. Saat istriku turun dari mobil untuk membuka pagar rumah, terlihat lelaki tua tergeletak tak berdaya didepan pagar dan istriku memanggilku untuk keluar dari mobil. Astaghfirullah, bapak tua itu adalah bapakku. Langsung kubawa dia kedalam mobil dan kuparkir mobilku ke garasi.
Kuajak ke kamar tamu dan kupanggil ibu, terlihat ibu sangat senang dan khawatir. Setelah bapak sadar, bapak menceritakan semuanya. Ternyata selama ini bapak tidak menikah lagi, ia pergi dari rumah karena ingin menenangkan diri dan sebenarnya saat itu bapak sudah berhenti judi dan mabuk-mabukan. Ia pergi dari rumah karena tak ingin membebani ibu, aku dan rani anaknya. Setelah bapak tahu aku lulus dan sukses seperti sekarang, bapak sangat bersyukur dan ingin sekali bertemu kami, walaupun hanya 2 menit. Namun semenjak kejadian itu, kini bapak tinggal bersama ibu, rani, dan istriku dirumahku dan menjadi rumah kami (ibnahsyati)
*** T A M A T***
Langganan:
Postingan (Atom)