Dendam Suci
Oleh Ibnah Syati
“plakkk!!”
suara tamparan ke-sepuluh dalam 2 minggu ini. Bapakku memang memiliki watak yang sangat kasar dan amat keras kepala. Dia suka judi, mabuk-mabukkan, bahkan sering bermain wanita diluar sana. Sebagai anak pertama yang sudah dewasa, tentunya aku sangat prihatin dengan keadaan keluargaku ini. Meskipun aku adalah anak laki-laki kesayangan bapak, tapi aku sering menangis melihat perlakuan kasar bapak kepada ibu.. Hampir setiap hari bapak pulang dengan keadaan setengah tidak sadar dan dengan kasar mendobrak pintu rumah. Ibu hanya sedih dan diam saja melihat keadaan bapak yang seperti ini.
Gelang dan perhiasan mas kawin bapak dan ibu telah bapak jual hanya untuk membayar hutang bapak kepada bandar judi. Adikku perempuan yang berumur 10 tahun selalu ikut menerima kenyataan buruk ini. Aku memang anak laki-laki yang bisa dibilang cukup dewasa untuk seumuran SMA, tapi aku merasa jenuh dan bosan dengan keadaan rumah, sering aku meninggalkan rumah ketika mereka bertengkar.Pernah aku berfikir untuk meminum minuman keras hanya untuk menenangkan pikiran. Tapi allah ternyata masih sayang denganku dan mengirimkan seorang guru laki-laki yang mampu menerima keluh kesahku dan menenangkan pikiranku. Bapak Harun, guru yang selalu memberiku motivasi dan makna hidup.
Keluargaku memang tidak terlalu berkecukupan, untuk jajan disekolah saja setiap menjelang subuh aku harus bekerja menjadi kuli angkat disuatu pasar dengan gaji 2000 rupiah untuk satu karungnya. Yang rata-rata berat dari karung tersebut 10-15 kg. Bapak dan ibu memang mengetahui aku bekerja seperti ini, apalagi ibuku yang setiap harinya menjadi buruh cuci juga terkadang ikut aku bekerja menjadi kuli dipasar. Dan bapakku terkadang terus memaksaku untuk ikut bapak keluar kota dengan calon istri barunya.
“Di, kamu tahu bapak sayang banget sama kamu. Bapak tahu kita hidup sangat miskin dan kekurangan. Apalagi ibumu yang tidak berguna itu cemburuan dan menyusahkan bapak cari uang”
“bapak sayang sama edi? Tapi kenapa bapak perlakukan seperti itu kepada ibu yang melahirkan edi?”
“kamu bodoh edi! Kamu nggak capek hidup kayak gini terus?”
“jelas edi capek pak! Capek melihat bapak pulang malem dengan keadaan mabuk. Capek ngelihat ibu bapak tampar, bapak siksa. Edi jenuh dirumah pak, karena perlakuan bapak”
“kamu nyalahin bapak? Bapak bilang baik-baik sama kamu itu karena minggu depan kamu harus ikut bapak ke Jakarta dengan ibu baru kamu!”
“hah? Ke jakarta ? Ibu baru?”
“yah, penyanyi yang tersohor di Kota Jakarta. Jelas hidupmu enak dan bisa terkenal kamu, punya ibu cantik, seksi, kaya lagi. Gak seperti ibumu yang jilbab aja lecek gak pernah ganti” . Dari pintu terlihat ibu datang dengan membawa cucian kotor.
Kulihat ibu hanya diam saja sambil memandang jilbabnya. Kurasa ibu mendengar apa yang bapak katakan.
“bapak, bapak boleh menghinaku didepan edi. Tapi apa benar bapak akan nikah lagi? Kenapa pak? Lalu bagaimana dengan anak-anak?”
“bagaimana apanya? Ya edi ikut aku tinggal bersama ibu barunya. Kamu disini sama rani. Aku udah gak betah bu hidup miskin sama kamu!”
“uang darimana buat bapak menikah lagi?”
“ya dari calon istriku lah yang banyak duit gak kayak isttri macem kamu”
Sejenak ibu langsung terdiam dan terlihat matanya yang berkaca-kaca. Aku sebenarnya udah emosi melihat keadaan ini. Namun aku mencoba menenangkan emosiku dan mulai berkata sedikit demi sedikit. Dan setelah bapak pergi meninggalkan rumah. Aku pamit ke ibu untuk cari udara segar dan menenangkan pikiranku.
***
Bel istirahat berbunyi, aku segera keluar kelas. Dari arah kanan terlihat Pak Harun sedang kerepotan membawa buku-buku pelajaran anak kelas lain. Segera ku menghampirinya dan membantunya membawakan sebagian buku tersebut menuju ruang guru, disepanjang jalan dua orang anak cewek yang terkenal bandel disekolah meledekku.
“anak seorang penjudi lagi deket ama guru, ingin punya bapak baru tuh cowok” terdengar dengan jelas perkataan mereka. Tapi, hm biarkan sajalah apa yang mereka kata. Memang benar aku anak seorang penjudi.
Didalam ruang guru, aku mensempat-sempatkan waktu ssperti biasa untuk bercerita keluh kesahku kepada pak Harun.
“ulah bapakku makin menjadi, pak! Bapak punya keinginan untuk pisah dengan ibu dan menikah lagi” kataku memulai pembicaraan saat duduk disebelahnya.
“tapi apakah bapakmu masih main tangan?”
“sudah pasti itu pak. Terkadang aku berfikir untuk kabur jauh dari rumah”
“itu gak ada gunanya. Apa kamu gak berfikir bagaimana keadaan ibumu kalo kamu gak dirumah?”
“ya aku juga berfikir seperti itu pak. Tapi aku juga stress dirumah”
“di, ingat kamu sebentar lagi akan menghadapi UNAS. Fikirkan dulu UNASmu.”
“iya aku tahu itu pak.”
“kamu jadi kuliah?”
“insyaallah pak. Kemarin aku sudah diberi tahu pak Surya kalau nilai raportku sudah disetorkan ke UBM pak”
“bagus itu edi. Teruskan perjuanganmu ya. Dan bapak kasih tau ke kamu. Kamu harus menanamkan DENDAM buat keluargamu”
“apa yang bapak maksud? Dendam itu kan...” belum sampai kumelanjutkan perkataanku, pak Harun memotong kata-kataku.
“ya dendam itu memang dosa. Yang bapak maksud dengan dendam adalah dendam kebaikan”
“apakah ada dendam kebaikan?”
“kamu harus memilik ketegasan dalam hidupmu , Di! Aku udah gede, aku juga uda bisa berfikir dewasa. Aku dendam kepada bapak atas perlakuan bapak yang sudah merusak kebahagiaan keluarga. Awas kamu, Pak! Aku akan serius belajar dan bersekolah hingga aku lulus dan menjadi orang sukses.”
“seperti cita-cita?”
“gak hanya cita-cita namun juga tujuan. Kalau aku sukses nanti, akan kuajak ibu dan rani didalam kebahagiaan”
“terimakasih pak Harun. Bapak sangat memotivasi.”
Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, “di silakan masuk kelas. Bel masuk udah bunyi. Semangatlah untuk dendammu.”
“iya pak.” Sambil ku bersalaman dengan beliau , langsung ku menuju kelasku dilantai 2
*************************
Hari ini, hari dimana akan diumumkan kelulusan. Doa dan istiqomah terus kupanjatkan. Disepanjang acara, aku terus berkata dalam hati kalimat dendam dari Pak Harun. Alhamdulillah aku masuk 5 besar jalur SNMPTN di UBM. Subhanallah, akan kumulai dendamku. Dan kutengok ibuku yang duduk disebelahku dalam acara ini. Terlihat muka ibu senang dan ada kesedihan yang ditutupinya. Kebetulan, minggu-minggu ini bapak udah gak pernah terlihat.
*kling!* suara handphone-ku , pesan dari bapak: edi sudah lulusan ya? Ikut bapak ya, Nak! Dengan ibu barumu yang kaya. Dan kamu gak perlu kesulitan lagi buat biaya sekolah.
Tanpa memberi tahu ibu, kumembalas pesan tersebut:aku memilih bersama ibu pak. Kalau bapak ingin mengajak edi, kembalilah pak. Dan perlu bapak ingat. Aku janji pak! Kalau edi gagal, edi mau tinggal bersama bapak dan ibu baru. Tapi kalau edi sukses. Edi tetap tinggal bersama ibu dalam kebahagiaan kesuksesan edi. Sekali lagi, kalau bapak sayang edi, kembalilah kepada kami. Maaf pak!
******6 tahun berjalan******
Rani sudah mulai tumbuh dewasa dan bersekolah disalah satu sekolah ternama didaerah rumah yang baru saja kubeli. Ibu juga sudah mulai terlihat tua namun makin terlihat bersahaja, meskipun terkadang masih sering berdoa tentang keselamatan bapak dan masih ada rasa sayang terhadap bapak. Dan seorang istri yang anggun nan cantik yang kebetulan dia seorang guru disekolah rani adikku.
Saat itu pukul 3 sore, mendung dilangit terlihat sangat gelap dan hujan deras mengguyur wilayah kami. Kunyalakan mobilku untuk menjemput farida istriku dan rani adikku. Ibu sengaja tidak ikut karena ia sedang asyik melihat hujan dari lantai 2.
Setelah sampai sekolah, kumelihat seorang laki-laki tua sedang menunggu anak sekolah, setelah kudekati dan kutanya ternyata beliau adalah Pak Harun yang sedang menjemput cucunya. Kamipun berbicara dan bercerita panjang lebar tentang keluargaku juga kukenalkan istriku. Aku sangat terharu ternyata pak Harun masih ingat dendamku yang kini telah terwujud. Pak harun bangga karena aku sudah memiliki mobil dan rumah sendiri, bekerja menjadi Manager di suatu Mall. Saat rani datang, dia bersama teman sebayanya yang ternyata itu adalah cucu Pak Harun.
Mendung semakin gelap, dan hujan makin deras. Segera ku kembali kerumah. Saat istriku turun dari mobil untuk membuka pagar rumah, terlihat lelaki tua tergeletak tak berdaya didepan pagar dan istriku memanggilku untuk keluar dari mobil. Astaghfirullah, bapak tua itu adalah bapakku. Langsung kubawa dia kedalam mobil dan kuparkir mobilku ke garasi.
Kuajak ke kamar tamu dan kupanggil ibu, terlihat ibu sangat senang dan khawatir. Setelah bapak sadar, bapak menceritakan semuanya. Ternyata selama ini bapak tidak menikah lagi, ia pergi dari rumah karena ingin menenangkan diri dan sebenarnya saat itu bapak sudah berhenti judi dan mabuk-mabukan. Ia pergi dari rumah karena tak ingin membebani ibu, aku dan rani anaknya. Setelah bapak tahu aku lulus dan sukses seperti sekarang, bapak sangat bersyukur dan ingin sekali bertemu kami, walaupun hanya 2 menit. Namun semenjak kejadian itu, kini bapak tinggal bersama ibu, rani, dan istriku dirumahku dan menjadi rumah kami (ibnahsyati)
*** T A M A T***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar